Senin, 10 Desember 2012

Andai Aku Besar Nanti

Andai aku t'lah dewasa 
Apa yang 'kan kukatakan 
Untukmu idolaku tersayang 
Ayah... Oh...
Andai usiaku berubah 

Kubalas cintamu bunda 
Pelitaku, penerang jiwaku
Dalam setiap waktu
Oh... Kutahu kau berharap dalam doamu 

Kutahu kau berjaga dalam langkahku
Kutahu s'lalu cinta dalam senyummu 
Oh Tuhan, Kau kupinta bahagiakan mereka sepertiku
Andai aku t'lah dewasa

Ingin aku persembahkan 
Semurni cintamu, setulus kasih sayangmu 
Kau s'lalu kucinta
Andai usiaku berubah 

Kubalas cintamu bunda 
Pelitaku, penerang jiwaku
Dalam setiap waktu
Oh... Kutahu kau berharap dalam doamu 

Kutahu kau berjaga dalam langkahku 
Kutahu s'lalu cinta dalam senyummu
Oh Tuhan, Kau kupinta bahagiakan mereka sepertiku
Andai aku t'lah dewasaIngin aku persembahkan 

Semurni cintamu, setulus kasih sayangmu
Kau s'lalu kucinta

#Sherina

Kamis, 06 Desember 2012

Maaf Ku Harus Meninggalkanmu

 Langit gelap tak berbintang. Malam ini memang cuaca mendung. Aku sendiri malam ini. Hanya berteman buku harian kecil di atas meja belajarku. Entah mengapa malam ini aku rindu pada seseorang. Aku ingin menangis. Tapi menangis akan membuatku terlihat cengeng. Ah, aku tak peduli orang bilang aku cengeng atau apa. Yang bisa kulakukan saat ini adalah menangis karena itu bisa membuat hatiku lega. Ku goreskan tinta di atas lembaran kertas buku harian tersebut.
Maaf ku harus meninggalkanmu bersama kisah yang telah ku lukis di atas kanvas kehidupan tanpa sepengetahuanmu.. Maaf ku harus meninggalkanmu bersama kenangan pahit manis saat berinteraksi denganmu..Maaf ku harus meninggalkanmu bersama rasa malu ku atas sikapku padamu..Maaf ku harus meninggalkanmu bersama berakhirnya permainan ini.. 
 Aku terdiam mencoba menerawang kembali kenangan-kenangan itu. Saat ini aku sangat menyadari bahwa apa yang aku lakukan selama ini adalah salah besar. Apa yang aku rasakan selama ini adalah salah.
Dan kisah ini ku lukis berawal dari pertama kali ku menginjakkan kaki di kampus peradaban ini. Dan saat itu aku hanya mempunyai bekal ilmu yang sangat sedikit sekali saat aku belajar di lingkaran cinta sewaktu SMA dulu. Aku menjalani hari-hariku seperti biasa, sama ketika di rumah. Sampai suatu ketika aku lihat kau pernah berjalan melewati depan kos ku. Sejak saat itu, aku pun sering melihatmu pada kesempatan-kesempatan lain. Saat itu kita belum saling mengenal. Dan ku yakin kau tidak pernah berpikir tentangku bahkan peduli dengan namaku pun tidak. Kau tidak tahu siapa diriku. Tapi aku tahu siapa namamu.  Tapi hanya sebatas tahu namamu saja. Lebih banyak tentangmu aku tak tahu, dan aku tak peduli juga. Kau terlihat begitu berwibawa saat itu.  Hmm, semenjak  aku sering melihatmu mulai ada getaran yang berbeda di hatiku dan aku mulai menikmatinya. Dan sebenarnya aku pun sudah sedikit tahu bahwa aku harusnya tak boleh seperti ini.
Perjumpaan pertamaku berdua denganmu saat kau hampir menabrakku saat kau mengendarai sepeda motor di pertigaan jalan depan  kampus itu. Aku malu. Entah apa yang aku rasakan saat itu, aku tak tahu. Hatiku panas dingin. Aku hanya menatapmu sekejab dan kau pun terus berlalu. Aku semakin yakin bahwa engkau sangat tak peduli dengan keberadaanku di kampus  itu. Tapi aku tak peduli dengan sikapmu itu. Sampai saat itu pun mungkin aku hanya sekedar tahu siapa namamu. Ya, hanya namamu dan asal daerahmu.
Dan mungkin telah takdir, aku dipertemukan denganmu dalam beberapa agenda. Dan aku mulai mengetahui apa-apa tentangmu. Dan kau, ku yakin kau telah mengetahui namaku. Tapi ku yakin kau tetap tak peduli dengan keberadaanku di kampus ini. Tapi aku tetap tak peduli dengan sikapmu padaku. Aku tetap mengagumimu.
Waktu terus berlalu… Kita mulai berinteraksi di dunia maya. Kau mulai menunjukan sikap ramahmu padaku. Bahkan kala aku sedang duduk sendiri, kau sapa aku dengan senyumanmu. Walau ku tahu senyummu tak semanis madu. Aku bahagia. Tapi aku tahu, aku salah menikmatinya. Dan kau terus menunjukkan sikap ramahmu padaku. Dan aku terus menikmati perasaan ini. Dan kau memulai permainan di dunia maya. Dan aku membalas permainanmu, dan kau membalas lagi permainanku, dan aku membalas lagi permainanmu, dan akhirnya kau tak membalas lagi permainan itu sampai saat ini.
Suatu ketika aku harus di hadapkan berdua denganmu dalam rangka menyongsong agenda penting. Sungguh sulit bagiku duduk berhadapan langsung berdua denganmu. -Sebenarnya bertiga, tapi bahkan aku tak peduli dengan orang ketiganya siapa.- Bahkan untuk sekedar bicara dan menjawab pertanyaanmu sangat sulit bagiku. Ku katakan pada sahabatku kalau aku membencimu setelah pertemuan itu. Dan setelah pertemuan itu, ternyata yang harus kuhadapi adalah kenyataan bahwa aku harus bekerja sama denganmu dan dengan beberapa sahabat lain. Aku benci seperti ini. Aku terjebak dalam permainanku sendiri. Aku benci dengan diriku dan dirimu.
Dan aku mulai introspeksi diri. Belajar dari pengalaman seorang sahabat yang ternyata lebih parah dariku. Aku mulai disadarkan bahwa aku salah telah menyiram benih-benih itu hingga bersemi seperti ini. Dan aku meminta bantuan sahabatku agar aku bisa menghancurkan benih yang telah bersemi itu. Dan ku yakin engkau pun telah memahami sikapku terhadapmu selama ini. Dan engkau mulai menjauhiku dan aku semakin membencimu. Tapi entah apa yang sebenarnya aku rasakan. Dan ketika aku mengetahui engkau sedang dekat dengan salah seorang sahabatku, entah apa yang sebenarnya aku rasakan. Kecewa, cemburu, sakit hati, benci, atau apa pula aku tak tahu dan aku tak mau tahu.
Hari-hariku kulalui dengan hati yang tidak sehat. Orang tua keduaku pun tak mengetahui apa yang sedang terjadi padaku. Sahabat-sahabat terdekatku yang sebelumnya tahu tentang hidupku, kini seakan mereka tak tahu apa-apa tentang ini. Aku memang memilih tidak cerita kepada mereka. Aku bimbang. Dan aku mencoba berpikir positif. Dan sampai saat ini aku akan tetap berpikir positif tentangmu. Mungkin dulu kau mulai menjauhiku, itu karena kau tidak mau kita terjerumus dengan mengambil jalan salah yang dibenci Allah, supaya kita tidak memilih jalan yang membuat Allah murka dan cemburu dengan kita. Dan aku semakin yakin itu adalah jalan terbaik. Engkau membenciku pun mungkin akan lebih baik setelah tahu aku ternyata seperti ini agar aku tak menaruh harapan padamu. Walau kini ku tahu mungkin kini kau sedang menaruh hati pada seseorang, tapi aku akan mencoba tetap berpikir positif tentangmu. Semua akan menjadi sebening prasangka.  Sejenak aku tersadar dari lamunan. Kemudian ku lanjutkan menulis di buku harian itu.
Bagiku kau tetap hebat dan aku tetap mengagumimu. Tapi maaf ku harus meninggalkanmu bersama kekaguman itu. Maaf ku harus meninggalkanmu bersama rasa kecewa yang pernah hinggap di hatiku. Maaf ku harus meninggalkanmu bersama beningnya prasangka itu. Maaf ku harus meninggalkanmu bersama kicauan burung di pagi hari...Maaf ku harus meninggalkanmu untuk sesuatu yang memang belum pasti. Ku yakin keadaan akan berubah seperti sedia kala, seperti dahulu sebelum aku mengenalmu dan sebelum engkau mengenalku. Di mana engkau tak pernah melihatku lagi di sini. Maaf aku harus pergi. Kutitipkan rinduku dan hatiku hanya pada-Nya. Ku berharap suatu saat bisa bertemu denganmu lagi. Dan untuk saat ini hatiku hanya untuk-Nya. Allah masih sayang padaku karena aku pun segera disadarkan dari kebodohan dan kelalaian hatiku selama ini. Astaghfirullah.. Semoga Allah mengampuniku, mengampunimu, dan mengampuni dosa kita semua...
Aku berhenti menulis. Menatap kosong gelapnya langit malam melalui jendela kamarku. Aku sangat berharap dapat berjumpa denganmu untuk kedua kalinya, bagaimana pun keadaanmu kelak aku tak peduli. Karena ku hanya ingin melihat keadaanmu. Karena ku hanya ingin tahu kabarmu. Aku ingin engkau bahagia dengan kesibukanmu. Semoga kesibukan itu tidak membutakan mata dan hatimu. Dan semoga tetap istiqomah berada di jalan lurus-Nya.. Aamiin..